Ketahanan Energi Indonesia:Tantangan dari Perspektif Ekonomi dan Kebijakan

“Kebutuhan energi tumbuh seiring pertumbuhan penduduk, perkembangan ekonomi dan gaya hidup manusia terkait energi.” Hal ini yang disampaikan oleh Bapak Ir. Hanan Nugroho, M.Sc., Ph.D pada kuliah umum pada program Pascasarjana program studi Magister Administrasi Publik (MAP) dan Magister Agribisnis (MA).

“Energi adalah “penggerak” kegiatan manusia. Manusia modern membutuhkan energi lebih banyak dan beragam dibandingkan manusia zaman batu. Energi (masih) digunakan secara tidak merata antar golongan pendapatan, antar negara maupun antar benua. Pasokan energi selalu meningkat pada tiap tahunnya namun juga konsumsi pemakaian energi selalu meningkat pada tiap tahunnya pula hal ini yang mengakibatkan harus ada kebijakan untuk menanggulangi masalah krisis energi di Indonesia ke depannya”

“Ketergantungan pada bahan bakar fosil sangat tinggi, di mana bauran energi Indonesia: Minyak Bumi (46%); Batubara (26%); Gas Bumi (23%); EBT (5%). Indonesia adalah net oil importir. Kondisi 2014: Produksi (287 juta barel); Konsumsi (420 juta barel); Impor BBM (195 juta barel); Impor Minyak bumi (121 juta barel); Kapasitas kilang sekitar 1 juta barel per hari.”

“Konsumsi energi per kapita masih rendah (5,4 BOE/kap), di mana  untuk konsumsi listrik (865 kWh/kap), rasio elektrifikasi 88,3%, kapasitas Pembangkit sekitar 53 GW. Untuk subsidi Energi ± Rp 400 triliun (2014) dan ± Rp 138 triliun (2015). Energi lebih banyak digunakan sebagai komoditas ekspor: Gas: ± 42% Ekspor; Batubara ± 82% Ekspor. Cadangan operasional BBM untuk 20-25 hari dan belum ada cadangan penyangga energi, sehingga dapat dikatakan penggunaan energi belum ada efisien.”

Hanan Nugroho, Perencana Utama di Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS). Bekerja di BAPPENAS sejak 1988. Pekerjaannya termasuk perencanaan, pembiayaan dan analisis kebijakan proyek-proyek pembangunan, khususnya di sektor energi, sumber daya mineral, dan lingkungan. Pernah menjadi Kepala Bagian Minyak & Gas Bumi, Kepala Bagian Pembangunan Kelistrikan, Kepala Bagian Energi Perdesaan, dan Staf Ahli Deputi Infrastruktur. Beberapa tahun terakhir ikut mengembangkan Pusat Analisis Kebijakan Bappenas.

Hadir dalam kuliah umum tersebut juga sebagai moderator adalah Ir. E. Harso Kardhinata, M.Sc (Sekretaris Program Studi Magister Agribisnis), Prof. Dr. Ir. Yusniar Lubis, M.MA (Ketua Program Studi Magister Agribisnis), dan Prof. Dr. Ir. Retna Astuti, K, MS (Direktur Program Pascasarjana UMA).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *